Kita patut bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena telah diberi kesempatan untuk berada di lingkungan yang baik — lingkungan para pencinta Al-Qur’an. Ini adalah nikmat besar yang tidak semua orang bisa merasakannya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.”
(QS. Fathir: 29)
Dalam ayat ini, Allah menyebutkan tiga amalan utama yang menjadi sumber keberuntungan dan pahala besar di sisi-Nya:
- Membaca Al-Qur’an
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari, no. 5027, dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu) Maka, kita semua—baik guru, ustadz, maupun pengurus—harus bersyukur berada di tengah-tengah orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an, baik membacanya, mengajarkannya, maupun mendukung kegiatan seputarnya. Ini adalah bagian dari “perniagaan yang tidak pernah rugi”. - Mendirikan Shalat
- Menginfakkan Rezeki
Kedua amalan ini juga tidak bisa lepas dari karakter seorang pencinta Al-Qur’an. Ibadah shalat adalah penguat hubungan dengan Allah, sementara infak adalah bentuk kepedulian terhadap sesama.
Kemudian Allah menyebutkan balasan yang agung bagi mereka dalam ayat selanjutnya:
“Agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.”
(QS. Fathir: 30)
Allah menjanjikan pahala yang sempurna, karunia yang berlipat, dan ampunan atas dosa-dosa mereka. Maka, janganlah kita merasa kecil atau tidak berperan hanya karena tidak sepenuhnya menjadi penghafal atau pengajar Al-Qur’an. Selama kita ikut andil dalam proses pendidikan, baik melalui peran administratif, pelayanan, atau dukungan moral, kita tetap termasuk dalam golongan orang-orang yang dicintai oleh Allah.
Nasihat Kedua: Menjaga Kebaikan dan Saling Mengingatkan
Sebagai bagian dari lingkungan pesantren, kita perlu terus berusaha untuk meningkatkan kualitas di setiap lini kehidupan, baik secara pribadi, kolektif, maupun institusional. Hal ini dapat dicapai melalui budaya saling mengingatkan, saling meluruskan, dan saling mendukung dalam kebaikan.
Namun dalam proses saling menasihati, kita tidak boleh melupakan adab syar’i. Kita harus menjaga ucapan, niat, dan cara penyampaian agar tidak menimbulkan luka atau perpecahan.
Allah telah memerintahkan:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Filosofi Jawa: Asah, Asih, Asuh
Untuk memperkuat sinergi antar elemen dalam pesantren, ada nilai luhur dalam filosofi Jawa yang sangat relevan, yaitu:
- Asah – Mengasah diri, memperbaiki kompetensi, dan mengevaluasi diri. Jangan sampai kekurangan kita menjadi sebab timbulnya masalah di lingkungan pesantren.
- Asih – Kasih sayang dan kepedulian. Tanpa cinta dan perhatian, pendidikan bisa menjadi kaku dan kehilangan ruhnya.
- Asuh – Memberi perlindungan dan menjaga kenyamanan. Pemimpin atau pengasuh bukan sekadar memberikan perintah, tapi juga membimbing dan menjaga.
Filosofi ini berjalan dua arah: dari atas ke bawah (pimpinan ke staf dan santri), dan dari bawah ke atas (staf atau santri menghormati pimpinan), serta antar sesama dalam tingkatan yang sama.
Hadis tentang Memuliakan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Termasuk bentuk memuliakan Allah adalah memuliakan orang muslim yang beruban (karena tua), penghafal Al-Qur’an yang tidak berlebihan dan tidak pula lalai terhadapnya, serta memuliakan pemimpin yang adil.”
(HR. Abu Dawud, no. 4843; hasan menurut Al-Albani)
Dari hadis ini, kita belajar pentingnya menjaga adab terhadap:
- Orang yang lebih tua, walaupun tidak memiliki jabatan resmi.
- Orang yang ahli Al-Qur’an, termasuk para santri yang telah Allah karuniakan kemampuan menghafalnya. Jangan pandang mereka dari usia atau kedudukan, tapi dari kemuliaan ilmu yang mereka bawa.
- Pemimpin yang adil, sebagai bentuk penghormatan terhadap amanah dan tanggung jawab besar yang dipikul.
Dengan menjaga adab dan menghormati ketiga golongan ini, keharmonisan dan semangat kerja kolektif di lingkungan pesantren akan tetap terjaga.
Penutup
Apa yang disampaikan dalam kajian ini adalah nasihat yang bersumber dari wahyu dan sunnah Rasulullah ﷺ. Jika semua elemen lembaga—guru, ustadz, santri, pengurus, dan pimpinan—mau mengamalkannya, insyaAllah Allah akan memberi kita taufik untuk menjadi lembaga yang semakin berkah, penuh harmoni, dan melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an.
Semoga Allah jadikan kita semua bagian dari “perdagangan yang tidak akan pernah rugi”.